Potensi Dampak Krisis Keuangan AS terhadap Indonesia


Krisis keuangan yang terjadi di AS demikian cepat menyebar ke berbagai negara. Walaupun Pemerintah AS telah memberikan dana talangan sebesar 700 milyar dolar. nampaknya pelaku pasar menganggap dana yang tersedia belum mencukupi sehingga pada hari Senin dan Selasa lalu indeks harga saham di seluruh dunia tetap berjatuhan. Hari Rabu siang jam 11.08, Bursa Efek Indonesia untuk pertama kalinya dihentikan perdagangannya karena turun secara signifikan sebesar 10,38 % sejak dibuka sesi pertama. Tindakan ini sangat tepat untuk mencegah kepanikan dan chaos.
Pertanyaannya adalah apakah Indonesia dapat mengurangi dampak tersebut terhadap perekonomiannya. Apakah memang fundamental ekonomi Indonesia benar-benar siap menghadapi gejolak eksternal tersebut? Secara sepintas memang bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup memadai untuk menahan gejolak eksternal tersebut. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi walaupun tidak berkualitas. Namun, sikap over confindence Pemerintah bisa menjadi bumerang seperti Pemerintah dulu sewaktu menghadapi awal krisis keuangan yang berasal dari Thailand tahun 1997. Sebenarnya ada beberapa indikator ekonomi yang kinerjanya tidak memuaskan dan ini dapat menyeret Indonesia ke dalam krisis keuangan.
Mungkinkah Krisis Lagi?.
Ada beberapa indikator yang memberikan signal sejak awal 2006 sampai dengan pertengahan 2008 yang menunjukkan probabilitas yang tinggi akan terjadinya krisis keuangan. Model yang kami kembangkan untuk sistem peringatan dini krisis keuangan yang mana ini dapat memprediksi peluang/probabilitas akan terjadinya krisis dalam 24 bulan mendatang (Imansyah dan Abimanyu, 2008). Pada awal 2006 sampai pertengahan 2008 probabilitas krisis keuangan telah melampaui batas ambangnya. Ini artinya bahwa Indonesia sangat mungkin mengalami krisis keuangan apalagi dengan adanya krisis keuangan global yang berasal dari AS.
Ada 14 indikator dini yang digunakan untuk mendeteksi krisis keuangan di Indonesia. Di dalam model tersebut, harga minyak mempunyai peranan yang sangat besar di dalam menyulut krisis keuangan di Indonesia. Hal ini karena peranan yang sangat besar terhadap APBN melalui besarnya subsidi akibat naiknya harga minyak dunia. Hal ini sudah terbukti sebanyak 2 kali yaitu ketika Pemerintah terlambat menaikkan harga BBM domestik sehingga menyebabkan terjerambabnya Rupiah terhadap Dolar AS pada akhir Agustus 2005 dan yang masih segar dalam ingatan adalah merosotnya Rupiah terhadap Dolar AS sebelum dinaikkanya harga BBM dalam negeri beberapa bulan lalu.
Dari model tersebut, indikator yang memberikan signal akan terjadinya krisis antar lain adalah harga minyak dunia yang tinggi, pertumbuhan M2 multiplier, meningkatnya rasio kredit terhadap PDB. Indikator-indikator dini ini menunjukkan pola abnormal. Indikator tingginya M2 multiplier mencerminkan tingginya pertumbuhan uang beredar. Sedangkan meningkatnya rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencerminkan meningkatnya kredit tidak sepadan dengan meningkatnya PDB. Artinya pertumbuhan kredit tidak tersalur ke sektor riil. Kemungkinannya adalah pertumbuhan kredit ke sektor konsumsi.
Dari Gambar ditunjukkan bahwa probabilitas krisis keuangan sejak awal tahun 2006 melewati batas ambang aman. Bila probabilitas melampaui batas ambang maka peluang terjadinya krisis menjadi sangat besar. Memang probabilitas krisis keuangan berfluktuasi sepanjang 2006-2008, namun lebih banyak berada di atas batas ambang. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya sangat rapuh yang ditunjukkan dari tingginya risiko akan terjadinya krisis keuangan.
Kehati-hatian dan Tidak Panik
Jangan punya anggapan ‘business as usual’ seperti pengalaman kita krisis 1997 yang demikian dalam karena kita menganggap fundamental ekonomi kita cukup kuat yang nyatanya sangat rapuh. Pemerintah jangan over confinden namun tidak perlu terlalu panik, karena beberapa indikator telah mengirimkan signal sejak 2006 yang artinya kondisi perekonomian sebenarnya juga sangat rentan. Kehati-hatian adalah langkah yang paling tepat, karena lebih baik mengantisipasi sinyal yang salah dengan kebijakan preemptive daripada kehilangan kemungkinan signal yang benar tanpa melakukan apapun. Dengan tindakan yang terukur dan hati-hati akan memberikan ketenangan kepada masyarakat dan pelaku pasar sehingga persepsi dan ekspektasi pasar dapat dikelola sesuai dengan tujuan. Saya kira Pemerintah dan Bank Indonesia sudah sangat faham kebijakan apa yang harus dilakukan. Koordinasi kebijakan antara kedua institusi merupakan hal mutlak.
Selain itu, negara tujuan alternatif ekspor harus segera dicari karena dampak krisis ini pasti akan mempengaruhi Indonesia. Dampak ekspor baru akan teras 3-6 bulan ke depan, sehingga masih punya waktu untuk mencari alternatif negara tujuan ekspor seperti ke Eropa dan negara Asia lainnya..Australia berhasil mengatasi dampak krisis Asia 1997 terhadap perekonomiannya dengan mengalihkan negara tujuan ekspor dari negara-negara Asia ke negara-negara lainnya seperti Eropa dan kebijakan ekonomi yang tepat (Imansyah, 2008). Yang jelas kondisi perekonomian pada saat ini sangat rentan sehingga krisis yang sudah terjadi di BEJ dapat saja menular ke sektor lain bila Pemerintah tidak dapat memelihara kepercayaan. Sebab secara fundmental ekonomi Indonesia sudah rapuh, bila kepercayaan juga hilang maka kepanikan dan chaos akan memperdalam krisis dan bisa berlangsung lama sehingga masa pemulihannya perlu waktu lagi. Tentu ini tidak kita harapkan.


Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl